#30HBC1803

“Gw nggak terlalu deket sama anak gw yang pertama,” sambil
memangku satu anak lelaki usia batita dan di sampingnya seorang anak perempuan
usia balita.

“Anak lo sama bapaknya ya?”

“Iya, anak gw sama bapaknya di kampung. Kalau gw samperin,
dia maunya ikut gw. Gw udah bilang ke anak gw, kalau gw hidupnya pas-pasan di
sini. Ini anak-anak gw aja belum tentu setiap hari makan.”

Ting tong ting tong ting tong. Pintu perbatasan rel kereta
api perlahan menutup.

“Bang, buruan Bang! Buruan Bang!! Gw belum kawin ketiga
kali,” sambil tertawa lepas.

[Perbincangan rombongan ibu-ibu di angkutan umum jurusan
Kampung Melayu]

Mungkin bagi sebagian orang, memiliki anak adalah sebuah
kewajiban tanpa pertimbangan.
Mungkin bagi sebagian orang, perkara anak mudah dijadikan
guyonan untuk ditagihkan ke mereka yang sudah menikah.
Tapi untuk sebagian orang, makhluk kecil ini membawa
tanggung jawab yang besar, yang kehadirannya perlu dipersiapkan.
Karena makhluk kecil ini memiliki jiwa, yang bahkan sudah
bisa merasa sejak di dalam kandungan.

Ini tentang tanggung jawab akan sebuah kehidupan.
Makhluk kecil ini tidak bisa memilih.
Makhluk besar yang punya pilihan.

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC18 #30HBC1803

 

 

Baca juga:  Menemani
Share: