Big Little Lies

Hari ini di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia ada Women’s March, sebuah gerakan untuk merayakan Hari Perempuan Internasional dengan turun ke jalan menyuarakan hak-hak perempuan. Karena ga turun ke jalan, jadi aku ikut menyuarakan lewat artikel ini. Hehe. Aku mau mengajak kalian semua melihat cerita perempuan lewat Big Little Lies.

Big Little Lies adalah drama series yang pertama kali ditayangkan di HBO Februari 2017 lalu. Serial drama ini menyajikan gambar-gambar ciamik yang menghanyutkan dan setiap episodenya membawa kita semakin terlarut dalam problematika perempuan.

Bercerita tentang 3 (tiga) perempuan, Madeline, Celeste dan Jane yang bersahabat karena tinggal di kota yang sama dan anak-anak mereka bersekolah di tempat yang sama. Konflik yang mereka alami membuat mereka semakin dekat dan saling menguatkan. Madeline yang diperankan oleh Reese Witherspoon ini adalah ibu rumah tangga yang memiliki 2 anak perempuan dan juga aktif membantu komunitas teater lokal. Jane yang diperankan oleh Shailene Woodley adalah orang tua tunggal yang baru pindah ke kota Monterey dan tinggal bersama anak laki-lakinya bernama Ziggy. Tokoh utama yang terakhir, Celeste, diperankan oleh Nicole Kidman adalah ibu rumah tangga yang mempunyai anak kembar dengan kehidupan mapan dan terlihat sangat harmonis.

Episode pertamanya menyajikan konflik yang berkelanjutan sampai akhir serial. Di hari orientasi tahun ajaran baru, Amabela dicekik oleh murid lain. Renata, ibu dari Amabela menuntut sang guru untuk menyelesaikan permasalahan ini. Pelan-pelan guru menanyakan Amabela tentang pelakunya tapi dia masih takut. Setelah dirayu untuk menunjukan pelakunya, Amabela menunjuk Ziggy, anak dari Jane. Ziggy langsung menyatakan dia tidak mencekik Amabela. Jane kaget, tapi berusaha tenang dan berbicara kepada Ziggy. Ziggy menjawab sambil menatap penuh keyakinan dan Jane mempercayai anaknya itu. Renata pun tidak terima anaknya dianiaya. Baik Jane dan Renata, sama-sama membela anaknya yang diperlakukan tidak adil.

Renata sebagai ibu pekerja, mempunyai dilemanya sendiri. Walaupun dia ibu pekerja, namun dia juga perhatian terhadap anaknya dan ketika menemukan bekas luka Amabela dia sangat marah. Apalagi melihat anaknya ketakutan dan sulit mengungkap pelaku. Beberapa hari kemudian, Amabela pulang dengan bekas luka baru dan tentu membuatnya frustasi. Sebagai ibu pekerja, Renata menyatakan kegelisahannya pada suaminya, “Women who choose their work is not a mother.” Sebuah persepsi masyarakat tentang ibu pekerja yang juga banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal Renata Renata di dunia nyata, selalu mengupayakan yang terbaik dalam kehidupan keluarga dan pekerjaan.

Dalam episode lainnya ditunjukan dilema ibu lain, full time mom. Madeline adalah ibu rumah tangga yang dikaruniai 1 anak dari pernikahan sebelumnya dan 1 anak perempuan lagi dari pernikahannya sekarang. Sebagai ibu rumah tangga, Madeline juga ingin lebih dihargai, maka dari itu dia bekerja part time di komunitas teater lokal. Walaupun bekerja, menurut Madeline pekerjaan part time tidak benar-benar dianggap sebagai sebuah pekerjaan oleh banyak orang dan ibu-ibu pekerja.

Untuk full time mom, anak-anak mereka adalah dunia mereka. Begitu yang Madeline rasakan. Bukan berarti tidak menganggap suaminya, hanya saja ketika anak mereka beranjak dewasa kemudian punya kehidupan sendiri, mereka merasa bahwa tidak ada yang bisa dilakukan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku yakin tidak hanya Madeline yang merasakan ini. Terlebih ibu-ibu yang selama ini waktu, energi, dan perhatiannya tercurah sepenuhnya kepada keluarga. Bahkan tidak sedikit yang sampai melupakan dirinya sendiri. Anak pertama Madeline, Abigail, sudah beranjak dewasa dan sedang berusaha menjalin hubungan baik dengan ibu tirinya. Hal ini membuat Madeline semakin merasa ditinggalkan.

Di luar konteks ibu rumah tangga ataupun ibu pekerja, ada ibu mandiri. Dan setiap ibu mandiri menginginkan anaknya menjadi pribadi yang mandiri juga, terlebih anak perempuannya. Begitu juga Madeline. Hal seperti ini kerap terjadi di sekitar kita, bahkan ketika anak-anaknya berkeluarga dan menjadi ibu juga. Misalnya, ada ibu yang tidak rela anaknya tidak bekerja, padahal mungkin anaknya yang juga seorang ibu, mempunyai pertimbangan lain yang membuat dia harus tidak bekerja.

Kadang kala kemandirian seorang ibu juga bisa membuat anak perempuannya terintimidasi, seperti yang dirasakan Abigail pada Madeline. Abigail terpengaruh kemandirian ibunya dan ingin juga memperjuangkan keprihatinan yang ada, sampai memilih untuk memperdagangkan keperawanannya for a good cause. Hal itu tentunya membuat Madeline shock dan harus mengintervensi keputusan anaknya. Dinamika antara ibu anak ini memunculkan perasaan terintimidasi akan kesempurnaan ibunya sebagai penyebab Abigail mengambil keputusan yang kontroversial. Madeline pun membuka diri kepada Abigail bahwa dirinya pun melakukan kesalahan dan tidak ada yang sempurna. Tentunya tidak mudah bagi Madeline untuk mengakui hal tersebut, tapi dia terus belajar bersama anaknya yang bertumbuh dewasa.

Baca juga:  Rekomendasi Bramandewi: 3 Things That I Love

Cerita lain datang dari Celeste, ibu dari anak laki-laki kembar yang dulunya adalah seorang pengacara sukses. Semenjak hamil dan melahirkan anak-anaknya, dia kemudian menjadi ibu rumah tangga. Suatu ketika, pertunjukan teater dimana Madeline bekerja diprotes oleh masyarakat karena pertunjukannya disinyalir terlalu kontroversial untuk dipertontonkan di masyarakat. Madeline meminta bantuan Celeste untuk membela pertunjukan ini karena pesan moral yang disampaikan cerita ini patut untuk diperjuangkan. Madeline tahu bahwa Celeste masih mempunya kemampuan itu dan Celeste menerimanya. Dalam pertemuan dengan walikota dan pihak pemrotes, Celeste berhasil memenangkan kasus tersebut. Celeste puas dengan hasilnya dan dia berkata, ”Today, I feel alive!” Pentingnya aktualisasi diri menjadi poin dari kejadian ini. Hal itu penting untuk dimiliki semua orang, terutama perempuan yang haknya sering kali tidak dihargai karena status ataupun kekodratannya. Menurutku aktualisasi diri ini memang krusial sebagai bentuk selfcare. Efeknya akan membuat kita bahagia dan merasa penuh. Energi positif ini akan menular ke lingkungan sekitar kita. Setiap energi itu akan menular, baik yang positif maupun yang negatif. So, taking care of yourself first, then other people.

Kebahagiaan Celeste ini, ternyata membuat suaminya, Perry, tidak senang. Sebelumnya pasangan Celeste-Perry ini sudah mengalami berbagai konflik yang berakar pada anger management Perry. Perry berpikir kalau Celeste senang, dia akan ingin kembali bekerja, sedangkan Celeste hanya melakukannya sukarela. Perry ingin Celeste hanya mengurus keluarganya saja. Setiap kali mengalami konflik, Perry seringkali tidak bisa mengendalikan emosi dan melakukan kekerasan fisik terhadap istrinya. Tapi kemudian selalu diakhiri dengan very passionate make up sex which turned into domestic violance. Hal itu pula yang membuat Celeste tidak bisa melihat jelas bahwa apa yang dilakukan suaminya itu tidaklah normal.

Ranah seksualitas ini memang menjadi ranah yang rawan abusive bagi perempuan di dunia nyata. Apalagi kalau sudah ada hubungannya dengan status suami istri atau pacaran juga bisa. Tidak usah jauh-jauh sampai kekerasan fisik, keharusan perempuan melakukan hubungan seks karena status istri atau pacar juga merupakan bentuk pelecehan. Perempuan boleh menolak ketika dia tidak menginginkannya. Lalu persepsi kepuasan laki-laki adalah hakiki, sedangkan kepuasan perempuan bukan kewajiban juga tidak menunjukan kesetaraan. Dan status-status itu sering digunakan untuk membuat perempuan seperti punya kewajiban dan mengesampingkan keinginannya juga perasaannya. Padahal sebenarnya, setiap perempuan itu berhak berpendapat. Status ini pula lah yang membuat Celeste menutup mata akan perilaku suaminya yang sudah melewati batas. Celeste melakukan pengecualian dan merasa bisa menyelamatkan keadaan serta masih berusaha mempercayai suaminya akan berubah.

Big Little Lies adalah drama series yang diangkat dari novel fiksi berjudul sama karangan Liane Moriarty. Walaupun fiksi, tapi isu-isu yang dimunculkan sangat relevan dengan kehidupan perempuan masa kini. Itu pun hanya sebagian cerita dinamika perempuan yang ditampilkan. Hal ini bisa menjadi pengingat dan bahan perenungan bagi kita bahwa masih banyak perjuangan perempuan yang belum selesai. Masih banyak kesewenangan yang terjadi karena terlahir sebagai perempuan. Bahkan untuk perempuan-perempuan yang berani menyuarakan pendapat saja masih bisa disepelekan, apalagi yang tidak. Dan ini membutuhkan peran serta sesama perempuan dan juga laki-laki.

Novel Big Little Lies ini aslinya tanpa lanjutan, namun produsernya sudah mengumumkan akan dibuat season lanjutannya. Agak sanksi sih sebenarnya sama lanjutannya, walaupun ceritanya dari penulis yang sama. Yang menarik buatku itu kehadiran Meryl Streep yang akan berperan menjadi ibu Perry. Tokohnya akan hadir untuk menuntut penyelesaian kasus anaknya. “She deeply loved her son. As much as any mother can loved her son,” kalau kata Liane Moriarty. Bikin penasaran kan? Apakah Big Little Lies season 2 akan menghadirkan isu-isu perempuan lainnya? Kita nantikan saja.

*I’m trying my best not to be a spoiler, but the story obviously shows. Haha. Can’t resist that! Hope you still enjoy watching the series.

Image source: HBO.com

Share: