Banjir arus informasi di era digital ini juga membanjiri dunia finansial tanpa terkecuali. Millenials sih sudah pasti banyak terpapar edukasi finansial paling tidak lewat media sosial. Informasi seputar keuangan yang banyak digencarkan beberapa waktu belakangan ini adalah investasi. Walaupun sudah tahu kalau investasi itu baik untuk dilakukan, tapi masih saja susah memulai. Biasanya keluhannya begini, ”Boro-boro investasi, duitnya aja engga bersisa,” atau “Duitnya masih ngepas untuk kebutuhan sehari-hari aja.”

Aku bukan ingin memberikan doktrin keuangan kok. Cuma berniat memantik refleksi dengan membicarakan hal yang bisa menjadi masalah mendasar di banyak orang. Ini soal spending behaviour atau cara kita membelanjakan/ memakai uang kita. Iya, masalah bisa jadi runyam karena kebiasaan. Dan untuk mengatasi masalah kebiasaan, ya harus dibiasakan. Jadi mulai dari mana?

1.WARISAN KEBIASAAN

Pernah aku buat riset kecil-kecilan ke teman-teman kuliah. Sebagai orang yang belajar Akuntasi, kurang banyak apa kami mendapatkan ilmu soal keuangan ya kan. Nah, pertanyaannya adalah bagaimana kebiasaan keuangan kami pribadi di dunia nyata? Apakah pembelajaran selama kuliah berpengaruh besar atau lebih berpengaruh kebiasaan dari keluarga? Dan mereka menjawab yang berpengaruh lebih banyak adalah kebiasaan dari keluarga.

Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sejarah itu dilihat, diterima, dan dicerna baru jadi sebuah pembelajaran. Maka mulailah dari mempelajari kebiasaan keuangan dari tempat kita bertumbuh. Misalnya, dalam sebuah keluarga, adik dan kakak kebiasaannya bisa berbeda. Si kakak mewarisi kebiasaan menabung ayah dan adik mewarisi berhutang ibu. Contoh lain, kebiasaan orang tua jajan dengan orang tua yang suka bebikinan. Kebiasaan jajan bisa membuat kita memaklumi membelanjakan hal-hal yang nilainya kecil. Padahal sedikit-sedikit lama-lama bisa menjadi bukit. Kebiasaan bebikinan dapat mempengaruhi pemikiran untuk memberdayakan apa yang ada dulu. Karena yang kita bicarakan di sini lagi-lagi tentang bagaimana kita memakai uang dan kita perlu melihat awal mula pemikiran kita terbentuk untuk memandang si uang.

2.HATI-HATI DENGAN MASALAH HATI

Pernahkah kalian ketika sedang gundah, lalu relung hati terasa ada yang kosong, tanpa sadar jari menuntun untuk mencari distraksi. Distraksi yang berlabuh pada segelas es kopi susu atau pernak-pernik yang diklaim spark joy. Apalagi di masa pandemi gini ya kan. Semua terjadi atas nama kewarasan. 

Belanja itu seperti remaja, makin dilarang makin menjadi. Makanya belanja itu butuh dikasih teman bernama bujet, biar setiap bulan lihat saldo engga kaget. Di tengah serbuan promo dan keanekaragaman platform belanja daring seperti sekarang, kita masih bisa cermat berbelanja kok. Bujet belanja bisa dialokasikan ke dompet-dompet digital, tapi habis itu jangan lupa ditinjau. Biar kelihatan mana yang perlu terjadi dan mana yang mengisi kekosongan hati. Percayalah teman-teman, kekosongan hati itu tidak bisa diisi dengan materi.

Baca juga:  Pesan Tiga Dua

Nah, supaya bisa berlanjut ke investasi, setiap kalian mengunduh aplikasi belanja daring, coba deh ditemani dengan aplikasi investasi. Lihat-lihat saja dulu awalnya, nanti lama-lama dari mata turun ke hati. Tanamkan bahwa realisasi lebih kecil dari bujet adalah sebuah keberhasilan. Dan buah-buah keberhasilan itu yang dipindahkan ke aplikasi investasi. Niscaya, kata-kata financial advisor yang kalian ikuti di media sosial, tentang investasi bisa dimulai dari 100.000 saja itu bisa direalisasikan. Seratus ribu itu juga sama dengan es kopi susu seminggu (es kopi susu harga 15.000an dan sehari sekali). Mulai investasi dari yang paling kecil resikonya untuk membiasakan diri. Lalu jadikan rutinitas, setiap cek toko daring juga cek investasinya. Nanti kalian rasakan sendiri lebih bahagia melihat yang bertambah daripada yang berkurang.

3.PENCITRAAN YANG DITAMPILKAN, DI LUAR KEMAMPUAN

Masalah keuangan sering berbanding lurus dengan masalah pemenuhan diri kita sebagai manusia. Mirip dengan yang sudah kubicarakan sebelumnya tentang kekosongan hati. Perasaan diri ini belum cukup atau perasaan ingin membuktikan sesuatu adalah tipe-tipe perasaan yang bisa berdampak buruk dengan keuangan. Ini semua berakar dari belum bisanya menerima diri dan keadaan diri apa adanya. 

“Lebay amat Feb!” Coba deh lihat sekeliling, dalam lingkaran pertemanan atau kekeluargaan kita pasti ada yang terjebak masalah keuangan karena alasan ini. Topik diskusi di media sosial tentang orang berhutang tapi orangnya bisa beli ini itu, sungguh nyata terjadi dan itu hanya salah satunya.

Ada permintaan, ada penawaran. Makanya jangan heran kalau pinjaman online (pinjol) juga semakin marak. Ini produk keuangan digital yang kusarankan tidak kalian coba sendiri untuk merasakan pengalamannya. Cukup membaca dan belajar dari pengalaman orang lain. 

Kalau sudah terjebak, solusinya kembali ke akar permasalahan untuk menerima diri apa adanya. Iya, itu jalan keluar finansial terbaik. Kalau perusahaan saja harus bisa membiayai kebutuhannya sendiri untuk dianggap sehat dan hutang pun hanya boleh dilakukan untuk hal-hal produktif, apalagi untuk diri kita pribadi.

Untuk menjadi pribadi yang melek literasi ekonomi, hendaknya kita memahami secara keseluruhan dan dapat mewujudnyatakan pengetahuan dalam kehidupan keseharian. Bisa dimulai dari memperhatikan kembali kebiasaan kita. 

Kalau kalian rasa tulisan ini meninggalkan kesan bermanfaat, silakan diteruskan ke mereka yang kalian sayang dan butuh bantuan. #IniUntukKita, untuk merdeka bersama.

Share: