Hoaks adalah kata serapan dari hoax.
Berhubung di kamus sudah masuk, berarti dalam dunia nyata penyerapannya sudah banyak terjadi.

Tengah bulan lalu ikut mendengarkan Melani Budianta, guru besar sastra FIB UI berbicara tentang “Sastra, Hoaks dan Humaniora”.
Ada beberapa poin penting untuk diserap.

Dalam banyak diskusi, era sekarang adalah era pasca kebenaran.
Di era ini, kebenaran atau fakta aktual bukan menjadi hal yang penting, tapi opini.
Apakah opini itu cocok dengan emosi, ideologi, dan hal-hal yang kita yakini atau tidak.
Kalau cocok berarti benar, kalau tidak cocok berarti salah.
Dan terjadi regresi iklim berpikir.

Ibarat katak dalam tempurung, sekarang semua katak sebaiknya loncat dari tempurungnya.
Bagaimana cara loncatnya? Lewat sastra dan humaniora.
Sastra adalah rekaan yang punya kebenarannya sendiri, sedangkan hoaks adalah rekaan yang ditujukan untuk memalsukan kebenaran.
Sastra mengajak kita untuk mengolah emosi dalam memaknai realitas, sedangkan hoaks mengeksploitasi emosi untuk mengukuhkan berbagai prasangka.

Lewat humaniora, kita diajak untuk melampaui tempurung dengan berbagai macam cara.
Humaniora juga membangkitkan berbagai macam ruang yang bisa diisi dengan berbagai macam kemungkinan.

Seni & humaniora bergerak cepat untuk merespon kejadian-kejadian di masa kini supaya bisa keluar dari sekat.
Kesenian sifatnya tidak dogmatis dan dialami secara berbeda, juga dimaknai dengan cara berbeda.
Inilah yang membuat seni bisa menjadi peluang pendobrak tempurung-tempurung para katak.

Jadi katak, sudah siap loncat dari tempurung?

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc18 #30hbc1824 #30HBC18hoaks #bergerakbersama

Baca juga:  Pekalongan, Pada Mulanya
Share: